Fenomena Angin Janda: Pergeseran Peran Istri dan Dinamika Sosial-Ekonomi Nelayan Desa Bongo (2008-2019)
DOI:
https://doi.org/10.58540/isihumor.v4i4.2307Keywords:
Angin Janda, Desa Bongo, Istri Nelayan, Sosial, Ekonomi, Teluk TominiAbstract
Cuaca ekstrem musiman di kawasan pesisir berdampak signifikan bagi kehidupan masyarakat nelayan. Di Desa Bongo, Kabupaten Gorontalo, nelayan lokal menghadapi fenomena "Angin Janda", yakni istilah lokal untuk hembusan angin musim timur dan barat daya yang destruktif di perairan Teluk Tomini. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi latar belakang fenomena Angin Janda, pergeseran peran istri nelayan akibat krisis tersebut, serta dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkannya pada rentang 2008-2019. Menggunakan metode sejarah (heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi), pengumpulan data bersandar pada penelusuran arsip kebencanaan desa (2008), dokumen RPJM, dan pemberitaan lampau. Data primer digali melalui wawancara mendalam terhadap 13 informan kunci yang terdiri dari nelayan aktif, istri nelayan, keluarga korban, dan aparatur desa yang dipilih secara purposif berdasarkan keterlibatan langsung mereka. Verifikasi keabsahan informasi dilakukan melalui kritik silang (triangulasi) antara memori kolektif informan dengan arsip tertulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena Angin Janda memaksa nelayan berhenti melaut, yang memicu anjloknya pendapatan harian secara drastis dari Rp500.000 menjadi Rp50.000. Krisis finansial musiman ini merombak batasan gender; para istri bertransformasi menjadi penopang utama ekonomi keluarga melalui usaha mandiri seperti berjualan kue beapong, membuka warung, dan menjadi buruh cuci. Secara sosial, fenomena ini merusak fisik pemukiman dan menelan korban jiwa. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengungkapan sejarah sosial tentang bagaimana krisis ekologis memicu pembentukan resiliensi dan kemandirian ekonomi perempuan pesisir yang selama ini luput dari historiografi maritim Gorontalo.





